“Saya maunya minimalis.”
“Saya maunya rumah yang hangat.”
“Aku suka warna putih.”
“Tapi rumah putih semua kok kayak rumah sakit…”
Daftar Isi
TogglePernah mengalami perdebatan seperti ini saat merencanakan rumah?
Kalau iya, tenang. Anda tidak sendirian.
Dalam proses merancang rumah, perbedaan selera antara suami dan istri justru sangat umum terjadi. Yang satu suka rumah modern dan sederhana, yang lain suka suasana klasik dan penuh dekorasi. Yang satu ingin ruang keluarga terbuka, yang lain ingin banyak ruang privat. Yang satu ingin rumah terlihat mewah, yang lain berpikir, “Yang penting nyaman dan gampang dirawat.”
Lalu pertanyaannya:
Kalau selera suami dan istri berbeda, rumah harus mengikuti siapa?
Jawabannya mungkin bukan suami.
Bukan juga istri.
Rumah seharusnya mengikuti cara keluarga tersebut menjalani kehidupan.
Dan di sinilah peran desain menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar memilih warna cat atau model fasad.
Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika membangun rumah adalah menjadikan proses desain seperti arena kompromi.
Suami ingin A.
Istri ingin B.
Akhirnya:
“Ya sudah, bagian depan ikut kamu. Bagian belakang ikut aku.”
Padahal rumah bukan seperti membagi kue ulang tahun.
Kalau setiap keputusan hanya berdasarkan siapa yang lebih keras mempertahankan pendapat, hasil akhirnya bisa menjadi rumah yang secara visual terlihat bagus, tetapi tidak benar-benar mewakili penghuninya.
Misalnya suami sangat menyukai gaya minimalis.
Semua ingin dibuat sederhana.
Tetapi istrinya senang menyimpan buku, tanaman, koleksi keramik, foto keluarga, dan berbagai benda yang memiliki nilai sentimental.
Kalau semua keinginan istri dianggap sebagai “membuat rumah berantakan”, tentu masalahnya bukan sekadar gaya interior.
Begitu juga sebaliknya.
Kalau istri ingin rumah penuh dekorasi sementara suami membutuhkan suasana sederhana dan tenang, bukan berarti salah satunya harus kalah.
Yang perlu dicari bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana keduanya bisa hidup nyaman di dalam rumah yang sama.

Menikah bukan berarti dua orang tiba-tiba mempunyai selera yang sama.
Justru sering kali sebaliknya.
Mereka datang dari keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, pengalaman masa kecil yang berbeda, bahkan cara mendefinisikan “rumah nyaman” pun bisa berbeda.
Bagi seseorang, rumah nyaman mungkin berarti:
Ruang bersih, kosong, rapi, dan minim barang.
Bagi orang lain:
Rumah nyaman adalah rumah yang penuh buku, tanaman, foto keluarga, dan benda-benda yang punya cerita.
Keduanya tidak salah.
Masalah muncul ketika masing-masing menganggap definisi nyaman miliknya sebagai satu-satunya definisi yang benar.
Padahal rumah akan dihuni bersama.
Maka desain rumah seharusnya tidak hanya bertanya:
“Rumah seperti apa yang kamu suka?”
Tetapi juga:
“Kamu akan menjalani hidup seperti apa di rumah ini?”
Ini salah satu hal yang sering terlewat.
Ketika pasangan mulai merencanakan rumah, pembicaraan biasanya langsung masuk ke:
“Fasadnya mau seperti apa?”
“Minimalis atau klasik?”
“Warnanya apa?”
“Pakai marmer atau granit?”
Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
“Setiap hari kita sebenarnya hidup seperti apa?”
Siapa yang paling sering memasak?
Siapa yang suka menerima tamu?
Apakah keluarga sering berkumpul?
Apakah suami sering bekerja dari rumah?
Apakah istri membutuhkan ruang untuk hobi?
Apakah anak-anak nantinya akan sering bermain di ruang keluarga?
Apakah keluarga lebih suka makan bersama atau masing-masing?
Apakah rumah harus selalu terlihat rapi atau justru harus fleksibel mengikuti aktivitas?
Pertanyaan seperti ini sering kali lebih menentukan daripada sekadar memilih gaya arsitektur.
Karena rumah yang baik bukan hanya rumah yang sesuai selera, tetapi rumah yang sesuai dengan kehidupan penghuninya.
Nah, ini klasik.
Suami:
“Aku suka rumah yang clean.”
Istri:
“Tapi kalau kosong begitu rasanya dingin.”
Jangan buru-buru memilih salah satu.
Ada jalan tengah.
Misalnya, elemen arsitektur dibuat relatif sederhana, sementara karakter personal dimasukkan melalui furnitur, tanaman, karya seni, tekstil, atau benda-benda koleksi.
Dengan begitu, rumah tetap mempunyai struktur visual yang tenang tetapi tidak kehilangan kepribadian.
Sebaliknya, kalau istri menyukai banyak dekorasi, bukan berarti semua permukaan harus dipenuhi barang.
Bisa dibuat area tertentu sebagai tempat berekspresi.
Jadi bukan:
minimalis vs dekoratif.
Tetapi:
bagaimana membuat rumah tetap sederhana sekaligus terasa hidup?
Ini juga menarik.
Sebenarnya rumah tidak harus memilih salah satu secara ekstrem.
Unsur modern bisa dipadukan dengan elemen yang terasa lebih familiar dan hangat.
Misalnya karakter modern diterapkan pada bentuk keseluruhan, sementara material, furnitur, tanaman, atau detail tertentu memberikan suasana yang lebih tradisional.
Hasilnya bahkan bisa lebih personal.
Karena rumah tersebut bukan sekadar mengikuti tren.
Rumah itu menceritakan siapa penghuninya.
Dan menurut saya, rumah yang mempunyai cerita sering kali jauh lebih menarik daripada rumah yang hanya mengejar tampilan yang sedang populer.
Walaupun selera bisa dikompromikan, kebutuhan tidak selalu bisa dinegosiasikan dengan cara yang sama.
Contohnya kebutuhan akan privasi.
Kebutuhan akan keamanan.
Kebutuhan anak.
Kebutuhan anggota keluarga yang sudah lanjut usia.
Kebutuhan seseorang yang bekerja dari rumah.
Atau kebutuhan seseorang yang mempunyai aktivitas tertentu setiap hari.
Di sinilah perbedaan antara “selera” dan “kebutuhan” menjadi penting.
Selera bisa dicari titik tengahnya.
Tetapi kebutuhan harus benar-benar dipahami.
Jangan sampai:
“Aku suka ruang terbuka.”
mengalahkan kebutuhan pasangan:
“Aku butuh ruang yang tenang untuk bekerja.”
Atau:
“Aku suka rumah tanpa banyak furnitur.”
mengalahkan kebutuhan anggota keluarga yang memang membutuhkan banyak tempat penyimpanan.
Rumah adalah ruang bersama.
Maka keputusan terbaik biasanya bukan keputusan yang paling memenuhi keinginan satu orang, melainkan yang paling masuk akal untuk kehidupan seluruh penghuni.
Ada hal lain yang sering dilupakan ketika pasangan membangun rumah.
Kita tidak akan menjadi orang yang sama selamanya.
Hari ini mungkin hanya tinggal berdua.
Beberapa tahun kemudian ada anak.
Anak mulai sekolah.
Kemudian remaja.
Orang tua mungkin tinggal bersama.
Anak-anak akhirnya dewasa dan pergi.
Aktivitas pekerjaan juga bisa berubah.
Hobi berubah.
Kebutuhan berubah.
Bahkan selera kita sendiri bisa berubah.
Karena itu, rumah tidak harus dibuat untuk memenuhi setiap keinginan hari ini secara permanen.
Yang lebih penting adalah membuat rumah yang cukup fleksibel untuk mengikuti perjalanan keluarga.
Kalau pertanyaannya dibuat sederhana:
Suami atau istri?
Jawabannya:
Keduanya.
Tetapi bukan berarti setiap elemen harus dibagi 50:50.
Karena kehidupan rumah tangga juga tidak selalu bekerja seperti matematika.
Ada ruang yang lebih banyak digunakan suami.
Ada ruang yang lebih banyak digunakan istri.
Ada ruang yang menjadi milik anak.
Ada ruang yang benar-benar menjadi ruang bersama.
Yang penting adalah setiap orang merasa:
“Rumah ini juga rumahku.”
Bukan:
“Ini rumahnya suami.”
atau
“Ini rumahnya istri.”
Ketika pasangan datang kepada arsitek dengan dua keinginan yang berbeda, tugas arsitek bukan memilih siapa yang benar.
Arsitek seharusnya membantu menerjemahkan dua keinginan yang berbeda menjadi satu kehidupan yang bisa berjalan bersama.
Karena kadang pasangan sebenarnya tidak benar-benar berbeda.
Mereka hanya menggunakan bahasa yang berbeda.
Suami berkata:
“Saya ingin rumah minimalis.”
Mungkin sebenarnya dia sedang mengatakan:
“Saya ingin rumah yang tidak merepotkan.”
Istri berkata:
“Saya ingin rumah yang hangat.”
Mungkin sebenarnya dia sedang mengatakan:
“Saya ingin rumah yang terasa nyaman untuk keluarga.”
Kalau kita menggali lebih dalam, bisa jadi keduanya menginginkan hal yang sama:
rumah yang nyaman untuk keluarga.
Hanya cara mereka membayangkannya yang berbeda.
Rumah adalah salah satu proyek terbesar dalam kehidupan sebuah keluarga.
Uangnya besar.
Waktunya panjang.
Dan hasilnya akan digunakan bertahun-tahun.
Sayang sekali kalau proses membangunnya justru menjadi pertandingan antara suami dan istri.
Karena setelah rumah selesai, tidak ada piala untuk pemenang.
Yang ada adalah dua orang yang akan tinggal di dalamnya setiap hari.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Rumah ini harus mengikuti selera suami atau istri?”
Tetapi:
“Rumah seperti apa yang bisa membuat keduanya merasa pulang?”
Karena pada akhirnya, rumah yang paling berhasil bukan rumah yang memenangkan selera seseorang.
Melainkan rumah yang membuat dua orang dengan selera berbeda bisa berkata:
“Ini rumah kita.”
The MEZZANINE Studio merupakan bagian dari Arkamaya Grhatama yang fokus bergerak di bidang perencanaan, desain arsitektur dan interior
Masih bingung dengan desain rumah yang ingin dibangun? Free konsultasi dengan arsitek kami